Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 September 2013

Jalan Lurus itu bernama Manhaj Salafush Sholih


Seorang pemuda lebih memilih hidup di jalan yang lurus, jelas itu sebuah kemuliaan. Dan dia memahami dengan benar bahwa hidup di jalan yang lurus itu penuh dengan ujian, bukan hal mudah dibenci oleh orang yang mencintai kita semenjak kita belum lagi memiliki nyawa dan hanya berupa segumpal daging. Dijauhi orang tua yang sangat kita cintai begitu teramat pedih, begitu sangat menyakitkan dalam hati, sedang pemuda itu tetap menampakkan baktinya kepada kedua orang tuanya. Tatapan sinis dan suara yang ketus jelas membuatnya menderita.

Betapa kini ia merasa kasih sayang yang ia dapatkan dari orang tuanya selama ini terasa begitu indah meski dulu ia tidak pernah merasakannya. Justru ia merasakan kasih sayang bapak dan ibunya menjadi kenangan manis baginya saat ia memilih jalan yang lurus ini, sebuah manhaj yang haq, betapa senyum ibunya itu begitu indah dimatanya meski kini ia jarang mendapatinya. Padahal dulu ia merasa senyum itu biasa-biasa saja. Betapa ia merasa kecintaannya kepada kedua orang tuanya semakin bertambah karena Allooh Ta'ala, padahal dulu ia enggan berbuat baik pada orang tuanya. Sungguh jalan lurus pilihannya yang dibenci orang tuanya telah mengubahnya menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya. Ia memang dibenci, ia memang dijauhi, ia memang dicaci... namun ia tak pernah membenci, menjauhi dan mencaci orang tuanya, wahai abi... wahai ummi, tidakkah kalian melihat aku telah berubah menjadi lebih baik daripada yang dulu... tidakkah kalian merasa sifatku lebih lembut daripada yang dulu, tidakkah kalian melihat ibadahku semakin baik dan rajin daripada yang dulu.... dan tidakkah engkau melihat ketulusan dari tatapan mataku serta linangan air mataku...

Celananya yang telah menjadi cingkrang dan jenggotnya yang kian melambai tertiup angin, matanya yang senantiasa tertunduk dan kesederhanaan penampilannya telah membuat heran keluarga, kerabat dan teman-temannya... satu persatu menjauh darinya, ia dibilang aneh, sesat, tidak solider atau dibilang teroris... Sungguh ia telah menjelaskan semampunya tentang jalan lurus yang ia tempuh, namun cibiran dan sindiran tetap menyapa telinganya, istighfar dalam kesedihan hatinya, ia merasa hal itu bagian dari ujian yang harus dilaluinya. Tidak lagi ia bisa mengenal dan memahami teman-temannya di saat jahil dahulu, semuanya menjauh dan membenci jalan yang lurus itu.

Kini jalan yang lurus itu ditempuhnya sendirian... namun perlahan dan pasti ia mengenal orang-orang yang mengalami hal yang sama pada dirinya, sahabat-sahabat yang baru, wajah-wajah yang baru, penuh senyum dan kekeluargaan menerimanya dengan hangat dan terbuka, dan ia bisa menambah pengetahuan bersama mereka, kesendirian itu tak lagi terasa, kesedihan itu perlahan mulai sirna, sungguh duduk bersama mereka mengelilingi para ahli 'ilmu adalah hal yang teramat manis dan menyenangkan, dan menatap wajah-wajah damai para pemilik 'ilmu itu betapa menenangkan.

Meski di luar sana ia kembali merasakan perlakuan tidak menyenangkan dari kerabat dan keluarganya, ia tidak merasakan kesepian lagi, ia menemukan kegembiraannya bergaul bersama para penuntut 'ilmu syar'iy, mengambil manfaat dari pergaulannya dan semakin memperbaiki dirinya, membuatnya semakin yakin dan sabar dalam menghadapi keluarganya, meski nasihatnya dicibir, meski jalan pilihannya masih dibenci, pemuda itu yakin bahwa Allooh Ta'ala pasti akan mengabulkan do'a-do'anya, bahwa perlahan kelak, pasti orang tuanya akan menerima jalan pilihannya itu dan melangkah bersamanya... menjemput rohmat Allooh bersama dan menggapai khusnul khotimah, jalan itu begitu terang disana... bersama para penempuhnya, meski jarang dan banyak yang enggan melewatinya... jalan itu membentang lurus penuh barokah, sebuah jalan yang telah banyak dilalui oleh para manusia terbaik dalam ummat ini, para salafush sholih... ya... dengan tersenyum pemuda itu berguman... Manhaj Salafush Sholih.

Walloohu a'lam.

2 komentar:

  1. Bismillaah ..
    Ya jalan lurus itu bernama manhaj salafush sholih, tapi haruskah kita menisbatkan diri ato melebelkan diri ato menyebut2 diri sebagai 'salafiy/salafiyyun' ?? Bukankah Allah sudah menjuluki kita sebagai muslim ??

    BalasHapus
  2. teteeh mau ikutan yaah

    aku pernah dikasih tau, katanya syaikh albani pernah berfatwa kalau di jaman seperti sekarang ini penisbatan itu perlu,karena kalo cuma muslim,bisa saji dia seorang sufi,JT,,dll.
    wallahu a'lam

    BalasHapus