Penghujung masa-masa yang
"susah" itu hampir tiba, sebuah penantian panjang dalam keterasingan.
Sungguh ironis jika ia memang merasa asing di antara orang-orang yang dikenalnya
bertahun-tahun... para guru yang dia hormati, para teman sekelas yang dia
cintai, tukang kebun yang dia curhati...
Betapa semakin dia tidak sabar
menunggu hari kelulusan itu, selesai sudah "siksaan" ikhtilath yang
ia rasakan dengan bertubi-tubi, sungguh semuanya membawa hikmah tersendiri. Dahulu ia yang mengenal setiap
kegiatan ekstra, bercanda ber-TTM ria, menikmati setiap saat maksiyat,
menikmati setiap pelanggaran yang ia lakukan, kini setelah mengenal manhaj yang
haq ini ia menjadi hafal dan kenal tempat-tempat "angker" (baca=sepi)
di sekolahnya. Tidak peduli hantu atau apapun (kalau memang iya hantu itu ada)
asal bukan campur baur menghabiskan masa istirahat di sekolahnya.
Dan di penghujung masa SMA itu juga
terakhir diterimanya, sebuah lembaran kertas yang dimasukkan amplop merah muda
bergambar hati tertusuk duri, dan bisa ia mencium surat itu memiliki aroma
harum kesturi... Perlahan dengan hati gemetar dan tangan terbasahi keringat
dingin dia membacanya... Tertuang ungkapan hati nan gundah gulana dari
seseorang disana, ungkapan kerinduan dan kecemasan serta rasa takut kehilangan,
kisah-kisah yang pernah terlalui bersama walau itu hanya dihukum berdua karena
terlambat sekolah. Sebuah surat kilasan balik masa "kejahilan" yang
diingatkan kembali oleh mantan "cinta monyetnya".
Dia menghela nafas panjang yang
hanya biasa dilakukannya saat terkena hukuman mengelilingi lapangan basket lima
belas kali. Sungguh detak jantungnya berpacu kencang melebihi saat terkena
hukuman lari kiloan meter itu.
“Wahai engkau yang disana.... tidak
tahukah engkau bahwa aku telah berubah, meninggalkan dirimu sejauh-jauhnya,
meninggalkan masa itu selamanya, menguburkannya dalam lembah terdalam hati ini
dan tak akan mau membukanya lagi. Duhai engkau yang disana, tidak tahukah
engkau bahwa kita adalah deretan korban-korban syaithon yang tak terhitung
jumlahnya... "
Dan akhirnya dia memutuskan untuk membalas surat merah muda nan
harum itu dengan sobekan kertas buku tulis pelajaran PKN nya halaman yang
terakhir... karena ini adalah surat yang terakhirnya kepada lelaki ajnabiy
baginya...
amma ba'd
Bismillaah, semoga Allooh Ta'ala
memberikan petunjuk jalan yang lurus kepadamu. Telah kita ketahui dan alami
masa-masa yang kita lalui bersama, mungkin engkau menuliskan dalam suratmu
bahwa itu adalah masa indah kita bersama, sungguh seandainya engkau mengetahui
bahwa kini aku menyesali setiap detik dari masa yang kita lewati itu. Jika
engkau merindukan masa itu kembali, sungguh aku justru sangat berharap masa itu
tidak pernah terjadi.
Tahukah engkau bahwa pacaran itu
adalah perbuatan mendekati zina, senyummu... senyumku... saat kita saling
bertatap mata, saat itulah syaithon menebar perangkap zina. Jika engkau
menyebutnya cinta pandangan pertama, maka kini aku meyakininya sebagai musibah.
Wahai saudaraku semoga Allooh memberikan petunjuk kepadamu, kini aku telah
berubah... jauh berubah dari yang pernah engkau kenali dulu...
Aku telah berubah menjadi akhowat
yang sejati, akhowat yang memiliki kehormatan akan dirinya, tidak layak bagiku mempermainkan
lelaki, jika aku memang mencintainya maka aku akan diam. Dan menunggu takdir
mempertemukan diriku dan dirinya.
Kini aku adalah seorang akhowat
sejati yang akan menanti masa depanku dengan kebersihan hati dan akhlakku.
Dan jika aku memang menghendaki ikhwan,
yang kuharapkan itu adalah ikhwan sholih,
menutup dirinya seakan ia adalah bintang yang teramat berharga, dan hanya
akulah saja yang kelak boleh menikmatinya jika sudah menikah.
Maka maafkanlah aku, perpisahan yang
kupaksakan kepadamu adalah demi kebaikanmu juga, agar engkau menyadari
kesalahan kita dulu, maka dengarlah nasihatku! menjauhlah dari pergaulan lawan jenis yang
tidak dihalalkan bagimu. Tuntutlah ilmu sebaik mungkin, cintailah ilmu syar'iy
dan berusahalah mengamalkannya, engkau dan aku hanyalah pengembara-pengembara
dalam sebuah perjalanan yang singkat namun penuh ujian dan cobaan.
Jika engkau
mampu melakukannya maka engkau adalah orang-orang yang beruntung.
Maka izinkanlah aku pergi darimu,
lupakan aku, lupakan semua kisah keburukan kita, dan buanglah semua kenangan
kita bersama. Jika engkau adalah jodohku, maka kelak kita pasti akan bertemu...
dalam sebuah ikatan yang suci dan indah... bersih dari segala noda yang bisa
mengotorinya. Selamat tinggal... ini adalah terakhir kali aku membalas suratmu.”
.......
Dan masa itupun berlalu... dia
(akhowat muda itu) tidak pernah lagi mendapatkan kabar akan "mantan"
orang yang pernah dikenalnya itu semenjak lulus dari SMA... Semoga Allooh
menjaganya...