Total Tayangan Halaman

Jumat, 27 September 2013

Rinduku Terbatas Waktu



Rinduku Terbatas Waktu
Diantara cinta di hati   
Ada rasa benci   
Diantara rasa gembira   
Ada rasa duka
    
Diantara yang kita pandang     
Ada yang tersembunyi     
Dan yang tersembunyi kadang     
Adalah yang berbahaya mempengaruhi hati
    
Diantara yang datang 
Ada yang pergi 
Dan yang pergi itu kadang 
dalah yang terbaik untuk hidup ini
    
Karena kita tak tahu  
Apa yang terbaik untuk kita  
Karena Tuhan Sang Pencipta  
Adalah yang serba tahu
    
Dan Sang Pencipta Alam ini    
Telah memberi yang terbaik untuk kita    
Dan kita sering menolak ini    
Terbawa oleh keangkuhan kita
    
Keangkuhan karena merasa
Kita lebih tahu
Keangkuhan karena kita
Keras hati laksana batu
    
Keras hati yang tercipta   
Karena dosa yang terus dipelihara   
Keras hati karena   
Kerap manambah dosa 
   

Diantara kau dan aku     
Ada batas waktu     
Dan batas waktu itu
Adalah sangat cepat berlalu 
   
Kenapa kau harus angkuh 
Karena telah sedikit mengeluarkan peluh 
Mendapatkan hasil yang cukup 
Memenuhi untuk hidup
    
Apa kau lupa  
Kita tak memiliki apa-apa  
Apa yang ada hanya titipan belaka  
Kan kembali semua kepada Sang Pencipta 
   
Dan batas waktu itu terus berlalu    
Senangkah kau terus merindu    
Sakitkah hatimu membuang waktu    
Dan jika tak sakit maka hatimu telah beku
    
Beku karena keangkuhan
Beku karena telah melupakan
Besarnya kekuasaan Tuhan
Berikan yang terbaik untuk kehidupan
     
Dan aku tak mau membuang waktu   
Karena ku harus mempertanggung jawabkan waktu   
Karena detik demi detik dihitung oleh Pencipta ku 
         
Kapan kau tak membuang waktu     
Dan rinduku ada batas nya     
Dan batas itu adalah waktu yang sangat berharga     

Selasa, 24 September 2013

Dunia Kecil


Senada dengan berputarnya roda

Lembaran kertas baru pun terbuka

Saat susah, gelisah, doa yang selalu ku baca

Disaat tertawa bersama dia

Teringat teman yang sudah menyerah

Satu alasan kau ku rekam dalam memori

Ingatlah mimpi, akan ku tangkap bersamamu

Terikat janji, akan ku genggam selamanya

Yakinilah, kita pasti bisa melepas senyum perpisahan

Selamat jalan sahabatku

Canda tawamu, tak akan hilang

Dulu bersama di dunia kecil

Terlihat, terasa, akhir alunan kisah ini

Percaya, rangkulah, letakkan hangatnya seperti sinar mentari

Kamis, 19 September 2013

Balasan dari Surat "Cinta" yang terakhir....


Penghujung masa-masa yang "susah" itu hampir tiba, sebuah penantian panjang dalam keterasingan. Sungguh ironis jika ia memang merasa asing di antara orang-orang yang dikenalnya bertahun-tahun... para guru yang dia hormati, para teman sekelas yang dia cintai, tukang kebun yang dia curhati...

Betapa semakin dia tidak sabar menunggu hari kelulusan itu, selesai sudah "siksaan" ikhtilath yang ia rasakan dengan bertubi-tubi, sungguh semuanya membawa hikmah tersendiri. Dahulu ia yang mengenal setiap kegiatan ekstra, bercanda ber-TTM ria, menikmati setiap saat maksiyat, menikmati setiap pelanggaran yang ia lakukan, kini setelah mengenal manhaj yang haq ini ia menjadi hafal dan kenal tempat-tempat "angker" (baca=sepi) di sekolahnya. Tidak peduli hantu atau apapun (kalau memang iya hantu itu ada) asal bukan campur baur menghabiskan masa istirahat di sekolahnya.

Dan di penghujung masa SMA itu juga terakhir diterimanya, sebuah lembaran kertas yang dimasukkan amplop merah muda bergambar hati tertusuk duri, dan bisa ia mencium surat itu memiliki aroma harum kesturi... Perlahan dengan hati gemetar dan tangan terbasahi keringat dingin dia membacanya... Tertuang ungkapan hati nan gundah gulana dari seseorang disana, ungkapan kerinduan dan kecemasan serta rasa takut kehilangan, kisah-kisah yang pernah terlalui bersama walau itu hanya dihukum berdua karena terlambat sekolah. Sebuah surat kilasan balik masa "kejahilan" yang diingatkan kembali oleh mantan "cinta monyetnya".

Dia menghela nafas panjang yang hanya biasa dilakukannya saat terkena hukuman mengelilingi lapangan basket lima belas kali. Sungguh detak jantungnya berpacu kencang melebihi saat terkena hukuman lari kiloan meter itu.


“Wahai engkau yang disana.... tidak tahukah engkau bahwa aku telah berubah, meninggalkan dirimu sejauh-jauhnya, meninggalkan masa itu selamanya, menguburkannya dalam lembah terdalam hati ini dan tak akan mau membukanya lagi. Duhai engkau yang disana, tidak tahukah engkau bahwa kita adalah deretan korban-korban syaithon yang tak terhitung jumlahnya... "

Dan akhirnya dia memutuskan untuk membalas surat merah muda nan harum itu dengan sobekan kertas buku tulis pelajaran PKN nya halaman yang terakhir... karena ini adalah surat yang terakhirnya kepada lelaki ajnabiy baginya...
amma ba'd

Bismillaah, semoga Allooh Ta'ala memberikan petunjuk jalan yang lurus kepadamu. Telah kita ketahui dan alami masa-masa yang kita lalui bersama, mungkin engkau menuliskan dalam suratmu bahwa itu adalah masa indah kita bersama, sungguh seandainya engkau mengetahui bahwa kini aku menyesali setiap detik dari masa yang kita lewati itu. Jika engkau merindukan masa itu kembali, sungguh aku justru sangat berharap masa itu tidak pernah terjadi.

Tahukah engkau bahwa pacaran itu adalah perbuatan mendekati zina, senyummu... senyumku... saat kita saling bertatap mata, saat itulah syaithon menebar perangkap zina. Jika engkau menyebutnya cinta pandangan pertama, maka kini aku meyakininya sebagai musibah. Wahai saudaraku semoga Allooh memberikan petunjuk kepadamu, kini aku telah berubah... jauh berubah dari yang pernah engkau kenali dulu...

Aku telah berubah menjadi akhowat yang sejati, akhowat yang memiliki kehormatan akan dirinya, tidak layak bagiku mempermainkan lelaki, jika aku memang mencintainya maka aku akan diam. Dan menunggu takdir mempertemukan diriku dan dirinya.

Kini aku adalah seorang akhowat sejati yang akan menanti masa depanku dengan kebersihan hati dan akhlakku.

Dan jika aku memang menghendaki ikhwan,  yang kuharapkan itu adalah ikhwan sholih, menutup dirinya seakan ia adalah bintang yang teramat berharga, dan hanya akulah saja yang kelak boleh menikmatinya jika sudah menikah.

Maka maafkanlah aku, perpisahan yang kupaksakan kepadamu adalah demi kebaikanmu juga, agar engkau menyadari kesalahan kita dulu, maka dengarlah nasihatku!  menjauhlah dari pergaulan lawan jenis yang tidak dihalalkan bagimu. Tuntutlah ilmu sebaik mungkin, cintailah ilmu syar'iy dan berusahalah mengamalkannya, engkau dan aku hanyalah pengembara-pengembara dalam sebuah perjalanan yang singkat namun penuh ujian dan cobaan. 

Jika engkau mampu melakukannya maka engkau adalah orang-orang yang beruntung.

Maka izinkanlah aku pergi darimu, lupakan aku, lupakan semua kisah keburukan kita, dan buanglah semua kenangan kita bersama. Jika engkau adalah jodohku, maka kelak kita pasti akan bertemu... dalam sebuah ikatan yang suci dan indah... bersih dari segala noda yang bisa mengotorinya. Selamat tinggal... ini adalah terakhir kali aku membalas suratmu.”
.......

Dan masa itupun berlalu... dia (akhowat muda itu) tidak pernah lagi mendapatkan kabar akan "mantan" orang yang pernah dikenalnya itu semenjak lulus dari SMA... Semoga Allooh menjaganya... 

Pemuda Salafi Itu....


Pemuda salafi itu jelas lurus akidah dan memahami tauhid dengan baik, melaksanakan setiap yang ia mampu dari ilmu yang diketahuinya dengan dasar yang jelas bersumber dari Kitabullooh, sunnah shohihah dan penjelasan para 'ulama salafush sholih. Pemuda salafi itu seseorang yang indah untuk dipandang, meski wajahnya tidak tampan, namun senyuman selalu menghiasinya, meski pakaiannya tidak mahal, namun bersih dan bersahaja. Di balik jenggotnya tersimpan kebaikan sunnah, di balik cingkrang-nya sirwal-nya tersimpan ketaqwaan dan 'ittiba. Sungguh sangat merugi mereka yang menjauh darinya.

Pemuda salafi itu orang terdepan dalam birrul walidain, menghargai jasa-jasa orang tuanya meski mereka masih awwam, sang pemuda salafi senantiasa memuliakan orang tuanya, tidak pernah berkata-kata kasar, apalagi membentak, selalu santun dalam bercengkrama dengan orang tuanya meski dibenci karena tegar di atas sunnah. Baginya sikap keras orang tuanya adalah ujian bagi iman-nya, dan rasa kasih sayang orang tuanya kepadanya, dia berprasangka baik kepada bapak dan ibunya, yang telah menjadi perantara lahirnya dia di dunia ini, menjaganya dengan susah payah saat ia masih bayi, bersabar akan kenakalannya saat ia masih anak-anak, dan membiayai kehidupannya hingga dia mampu untuk hidup mandiri, sungguh kebencian orang tuanya adalah kasih sayang baginya, teguran bahwa dia masih kurang berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Kata-kata kasar dan cibiran saudaranya senantiasa dibalasnya dengan senyuman dan hadiah. Jika dia mengingat jasa orang tuanya, sungguh teramat kecil perbuatan baiknya kepada orang tuanya dibanding jasa orang tuanya kepadanya. Air mata berlinang dalam doa selepas sholat malamnya demi kebaikan orang tuanya dan saudara-saudarinya.

Pemuda salafi itu selalu bersemangat dalam mencari nafkah, tidak gengsi dan banyak tingkah, menyukai kebaikan dan membenci ikhtilath yang bisa merusak hatinya. Meski pekerjaannya adalah pekerjaan biasa, dia senantiasa bersyukur kepada Robb-nya, betapa rizki yang dia dapatkan sanggup untuk menegakkan punggungnya, berbakti kepada orang tuanya dan sebagian untuk sedekah. Dia selalu menjaga amanah, selalu berprasangka baik dalam kehidupannya, dan menjaga dirinya dari hal yang harom serta tercela.

Pemuda salafi itu santun dalam berkata, senantiasa menyebarkan nasihat dalam kebaikan, senantiasa mengajak untuk bersabar dalam melaksanakan kebaikan, meski kadang orang mencela dan berkata bahwa dia kurang "hikmah", dia berlindung kepada Allooh dari perkataan tercela dan kesombongan, dia senantiasa menjaga dirinya dari pergaulan yang buruk, senantiasa menjaga perdebatan dalam majelis, berdiam jika memang tak mampu berkata, dan berkata jika memang itu suatu kebaikan. Pemuda salafi itu hanya takut kepada Allooh, tegar dalam menyampaikan kebaikan dan dakwahnya. Pemuda salafi itu tidak berkata kecuali apa-apa yang diketahuinya, dan dia senantiasa berada dalam majelis orang-orang sholih untuk mengambil ilmu dari ahlinya. Akhlaknya mulia, pergaulannya menyenangkan, memukau setiap mata yang memandang.

Pemuda salafi itu tidak menyukai wanita yang hobby mengumbar aurotnya, baginya kecantikan hanyalah perisai setebal kulit, perhiasan yang melenakan jika tak mampu menjaganya, sedang di balik kulit itu hanya ada tumpukan darah, tulang dan daging. Dan dalam tumpukan itu terdapat segumpal darah yang menentukan kebaikan penampilan luarnya. Sungguh yang diimpikannya adalah wanita yang sederhana dan baik dalam pergaulannya, senantiasa menjaga kehormatannya dengan hijabnya, lisannya terpenjara dalam dua bibir yang indah, tidak berkata kecuali kebaikan dan enggan untuk keluar dari rumahnya kecuali untuk hal yang darurot dan menuntut 'ilmu agama. Pemuda salafi itu merindukan teman untuk mengarungi hidup yang bisa membantunya dalam ketaqwaan, bukan "beban" yang akan menjadikan fitnah baginya dalam kehidupan. Duhai bahagianya wanita sederhana berhijab yang dipilihnya itu, duhai betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan pilihannya dalam mengkhitbah...

Pemuda salafi itu, memiliki cinta yang sesuai takarannya kepada manusia, tidak mencintai melebihi dari apa yang harus dicintainya, dengan kebaikan 'ilmu agama yang diketahuinya, dia melangkah menebarkan kebaikan dan keindahan, pemuda salafi itu selalu tegar dalam ujian dan cobaan yang dihadapinya, selalu berbaik sangka kepada Robb-nya, bahwa tidaklah dia akan benar-benar dikatakan beriman, kecuali telah melalui setiap ujian yang diberikan kepadanya dengan baik. Bersama dengannya engkau selalu betah, berpisah dengannya sengkau akan selalu merindukannya...

Walloohu a'lam

Jalan Lurus itu bernama Manhaj Salafush Sholih


Seorang pemuda lebih memilih hidup di jalan yang lurus, jelas itu sebuah kemuliaan. Dan dia memahami dengan benar bahwa hidup di jalan yang lurus itu penuh dengan ujian, bukan hal mudah dibenci oleh orang yang mencintai kita semenjak kita belum lagi memiliki nyawa dan hanya berupa segumpal daging. Dijauhi orang tua yang sangat kita cintai begitu teramat pedih, begitu sangat menyakitkan dalam hati, sedang pemuda itu tetap menampakkan baktinya kepada kedua orang tuanya. Tatapan sinis dan suara yang ketus jelas membuatnya menderita.

Betapa kini ia merasa kasih sayang yang ia dapatkan dari orang tuanya selama ini terasa begitu indah meski dulu ia tidak pernah merasakannya. Justru ia merasakan kasih sayang bapak dan ibunya menjadi kenangan manis baginya saat ia memilih jalan yang lurus ini, sebuah manhaj yang haq, betapa senyum ibunya itu begitu indah dimatanya meski kini ia jarang mendapatinya. Padahal dulu ia merasa senyum itu biasa-biasa saja. Betapa ia merasa kecintaannya kepada kedua orang tuanya semakin bertambah karena Allooh Ta'ala, padahal dulu ia enggan berbuat baik pada orang tuanya. Sungguh jalan lurus pilihannya yang dibenci orang tuanya telah mengubahnya menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya. Ia memang dibenci, ia memang dijauhi, ia memang dicaci... namun ia tak pernah membenci, menjauhi dan mencaci orang tuanya, wahai abi... wahai ummi, tidakkah kalian melihat aku telah berubah menjadi lebih baik daripada yang dulu... tidakkah kalian merasa sifatku lebih lembut daripada yang dulu, tidakkah kalian melihat ibadahku semakin baik dan rajin daripada yang dulu.... dan tidakkah engkau melihat ketulusan dari tatapan mataku serta linangan air mataku...

Celananya yang telah menjadi cingkrang dan jenggotnya yang kian melambai tertiup angin, matanya yang senantiasa tertunduk dan kesederhanaan penampilannya telah membuat heran keluarga, kerabat dan teman-temannya... satu persatu menjauh darinya, ia dibilang aneh, sesat, tidak solider atau dibilang teroris... Sungguh ia telah menjelaskan semampunya tentang jalan lurus yang ia tempuh, namun cibiran dan sindiran tetap menyapa telinganya, istighfar dalam kesedihan hatinya, ia merasa hal itu bagian dari ujian yang harus dilaluinya. Tidak lagi ia bisa mengenal dan memahami teman-temannya di saat jahil dahulu, semuanya menjauh dan membenci jalan yang lurus itu.

Kini jalan yang lurus itu ditempuhnya sendirian... namun perlahan dan pasti ia mengenal orang-orang yang mengalami hal yang sama pada dirinya, sahabat-sahabat yang baru, wajah-wajah yang baru, penuh senyum dan kekeluargaan menerimanya dengan hangat dan terbuka, dan ia bisa menambah pengetahuan bersama mereka, kesendirian itu tak lagi terasa, kesedihan itu perlahan mulai sirna, sungguh duduk bersama mereka mengelilingi para ahli 'ilmu adalah hal yang teramat manis dan menyenangkan, dan menatap wajah-wajah damai para pemilik 'ilmu itu betapa menenangkan.

Meski di luar sana ia kembali merasakan perlakuan tidak menyenangkan dari kerabat dan keluarganya, ia tidak merasakan kesepian lagi, ia menemukan kegembiraannya bergaul bersama para penuntut 'ilmu syar'iy, mengambil manfaat dari pergaulannya dan semakin memperbaiki dirinya, membuatnya semakin yakin dan sabar dalam menghadapi keluarganya, meski nasihatnya dicibir, meski jalan pilihannya masih dibenci, pemuda itu yakin bahwa Allooh Ta'ala pasti akan mengabulkan do'a-do'anya, bahwa perlahan kelak, pasti orang tuanya akan menerima jalan pilihannya itu dan melangkah bersamanya... menjemput rohmat Allooh bersama dan menggapai khusnul khotimah, jalan itu begitu terang disana... bersama para penempuhnya, meski jarang dan banyak yang enggan melewatinya... jalan itu membentang lurus penuh barokah, sebuah jalan yang telah banyak dilalui oleh para manusia terbaik dalam ummat ini, para salafush sholih... ya... dengan tersenyum pemuda itu berguman... Manhaj Salafush Sholih.

Walloohu a'lam.