Pemuda
salafi itu jelas lurus akidah dan memahami tauhid dengan baik, melaksanakan
setiap yang ia mampu dari ilmu yang diketahuinya dengan dasar yang jelas
bersumber dari Kitabullooh, sunnah shohihah dan penjelasan para 'ulama salafush
sholih. Pemuda salafi itu seseorang yang indah untuk dipandang, meski wajahnya
tidak tampan, namun senyuman selalu menghiasinya, meski pakaiannya tidak mahal,
namun bersih dan bersahaja. Di balik jenggotnya tersimpan kebaikan sunnah, di
balik cingkrang-nya sirwal-nya tersimpan ketaqwaan dan 'ittiba. Sungguh sangat
merugi mereka yang menjauh darinya.
Pemuda
salafi itu orang terdepan dalam birrul walidain, menghargai jasa-jasa orang
tuanya meski mereka masih awwam, sang pemuda salafi senantiasa memuliakan orang
tuanya, tidak pernah berkata-kata kasar, apalagi membentak, selalu santun dalam
bercengkrama dengan orang tuanya meski dibenci karena tegar di atas sunnah.
Baginya sikap keras orang tuanya adalah ujian bagi iman-nya, dan rasa kasih
sayang orang tuanya kepadanya, dia berprasangka baik kepada bapak dan ibunya,
yang telah menjadi perantara lahirnya dia di dunia ini, menjaganya dengan susah
payah saat ia masih bayi, bersabar akan kenakalannya saat ia masih anak-anak,
dan membiayai kehidupannya hingga dia mampu untuk hidup mandiri, sungguh
kebencian orang tuanya adalah kasih sayang baginya, teguran bahwa dia masih
kurang berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Kata-kata kasar dan
cibiran saudaranya senantiasa dibalasnya dengan senyuman dan hadiah. Jika dia
mengingat jasa orang tuanya, sungguh teramat kecil perbuatan baiknya kepada
orang tuanya dibanding jasa orang tuanya kepadanya. Air mata berlinang dalam
doa selepas sholat malamnya demi kebaikan orang tuanya dan saudara-saudarinya.
Pemuda
salafi itu selalu bersemangat dalam mencari nafkah, tidak gengsi dan banyak
tingkah, menyukai kebaikan dan membenci ikhtilath yang bisa merusak hatinya.
Meski pekerjaannya adalah pekerjaan biasa, dia senantiasa bersyukur kepada
Robb-nya, betapa rizki yang dia dapatkan sanggup untuk menegakkan punggungnya,
berbakti kepada orang tuanya dan sebagian untuk sedekah. Dia selalu menjaga
amanah, selalu berprasangka baik dalam kehidupannya, dan menjaga dirinya dari
hal yang harom serta tercela.
Pemuda
salafi itu santun dalam berkata, senantiasa menyebarkan nasihat dalam kebaikan,
senantiasa mengajak untuk bersabar dalam melaksanakan kebaikan, meski kadang
orang mencela dan berkata bahwa dia kurang "hikmah", dia berlindung
kepada Allooh dari perkataan tercela dan kesombongan, dia senantiasa menjaga
dirinya dari pergaulan yang buruk, senantiasa menjaga perdebatan dalam majelis,
berdiam jika memang tak mampu berkata, dan berkata jika memang itu suatu
kebaikan. Pemuda salafi itu hanya takut kepada Allooh, tegar dalam menyampaikan
kebaikan dan dakwahnya. Pemuda salafi itu tidak berkata kecuali apa-apa yang
diketahuinya, dan dia senantiasa berada dalam majelis orang-orang sholih untuk
mengambil ilmu dari ahlinya. Akhlaknya mulia, pergaulannya menyenangkan,
memukau setiap mata yang memandang.
Pemuda
salafi itu tidak menyukai wanita yang hobby mengumbar aurotnya, baginya
kecantikan hanyalah perisai setebal kulit, perhiasan yang melenakan jika tak
mampu menjaganya, sedang di balik kulit itu hanya ada tumpukan darah, tulang
dan daging. Dan dalam tumpukan itu terdapat segumpal darah yang menentukan
kebaikan penampilan luarnya. Sungguh yang diimpikannya adalah wanita yang
sederhana dan baik dalam pergaulannya, senantiasa menjaga kehormatannya dengan
hijabnya, lisannya terpenjara dalam dua bibir yang indah, tidak berkata kecuali
kebaikan dan enggan untuk keluar dari rumahnya kecuali untuk hal yang darurot
dan menuntut 'ilmu agama. Pemuda salafi itu merindukan teman untuk mengarungi
hidup yang bisa membantunya dalam ketaqwaan, bukan "beban" yang akan
menjadikan fitnah baginya dalam kehidupan. Duhai bahagianya wanita sederhana
berhijab yang dipilihnya itu, duhai betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan
pilihannya dalam mengkhitbah...
Pemuda
salafi itu, memiliki cinta yang sesuai takarannya kepada manusia, tidak
mencintai melebihi dari apa yang harus dicintainya, dengan kebaikan 'ilmu agama
yang diketahuinya, dia melangkah menebarkan kebaikan dan keindahan, pemuda
salafi itu selalu tegar dalam ujian dan cobaan yang dihadapinya, selalu berbaik
sangka kepada Robb-nya, bahwa tidaklah dia akan benar-benar dikatakan beriman,
kecuali telah melalui setiap ujian yang diberikan kepadanya dengan baik.
Bersama dengannya engkau selalu betah, berpisah dengannya sengkau akan selalu
merindukannya...
Walloohu
a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar