Seorang pemuda
lebih memilih hidup di jalan yang lurus, jelas itu sebuah kemuliaan. Dan dia
memahami dengan benar bahwa hidup di jalan yang lurus itu penuh dengan ujian,
bukan hal mudah dibenci oleh orang yang mencintai kita semenjak kita belum lagi
memiliki nyawa dan hanya berupa segumpal daging. Dijauhi orang tua yang sangat
kita cintai begitu teramat pedih, begitu sangat menyakitkan dalam hati, sedang
pemuda itu tetap menampakkan baktinya kepada kedua orang tuanya. Tatapan sinis
dan suara yang ketus jelas membuatnya menderita.
Betapa kini ia
merasa kasih sayang yang ia dapatkan dari orang tuanya selama ini terasa begitu
indah meski dulu ia tidak pernah merasakannya. Justru ia merasakan kasih sayang
bapak dan ibunya menjadi kenangan manis baginya saat ia memilih jalan yang
lurus ini, sebuah manhaj yang haq, betapa senyum ibunya itu begitu indah
dimatanya meski kini ia jarang mendapatinya. Padahal dulu ia merasa senyum itu
biasa-biasa saja. Betapa ia merasa kecintaannya kepada kedua orang tuanya
semakin bertambah karena Allooh Ta'ala, padahal dulu ia enggan berbuat baik
pada orang tuanya. Sungguh jalan lurus pilihannya yang dibenci orang tuanya
telah mengubahnya menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya. Ia memang
dibenci, ia memang dijauhi, ia memang dicaci... namun ia tak pernah membenci,
menjauhi dan mencaci orang tuanya, wahai abi... wahai ummi, tidakkah kalian
melihat aku telah berubah menjadi lebih baik daripada yang dulu... tidakkah
kalian merasa sifatku lebih lembut daripada yang dulu, tidakkah kalian melihat
ibadahku semakin baik dan rajin daripada yang dulu.... dan tidakkah engkau
melihat ketulusan dari tatapan mataku serta linangan air mataku...
Celananya yang
telah menjadi cingkrang dan jenggotnya yang kian melambai tertiup angin,
matanya yang senantiasa tertunduk dan kesederhanaan penampilannya telah membuat
heran keluarga, kerabat dan teman-temannya... satu persatu menjauh darinya, ia
dibilang aneh, sesat, tidak solider atau dibilang teroris... Sungguh ia telah
menjelaskan semampunya tentang jalan lurus yang ia tempuh, namun cibiran dan
sindiran tetap menyapa telinganya, istighfar dalam kesedihan hatinya, ia merasa
hal itu bagian dari ujian yang harus dilaluinya. Tidak lagi ia bisa mengenal
dan memahami teman-temannya di saat jahil dahulu, semuanya menjauh dan membenci
jalan yang lurus itu.
Kini jalan yang
lurus itu ditempuhnya sendirian... namun perlahan dan pasti ia mengenal
orang-orang yang mengalami hal yang sama pada dirinya, sahabat-sahabat yang
baru, wajah-wajah yang baru, penuh senyum dan kekeluargaan menerimanya dengan
hangat dan terbuka, dan ia bisa menambah pengetahuan bersama mereka,
kesendirian itu tak lagi terasa, kesedihan itu perlahan mulai sirna, sungguh
duduk bersama mereka mengelilingi para ahli 'ilmu adalah hal yang teramat manis
dan menyenangkan, dan menatap wajah-wajah damai para pemilik 'ilmu itu betapa
menenangkan.
Meski di luar
sana ia kembali merasakan perlakuan tidak menyenangkan dari kerabat dan
keluarganya, ia tidak merasakan kesepian lagi, ia menemukan kegembiraannya
bergaul bersama para penuntut 'ilmu syar'iy, mengambil manfaat dari
pergaulannya dan semakin memperbaiki dirinya, membuatnya semakin yakin dan
sabar dalam menghadapi keluarganya, meski nasihatnya dicibir, meski jalan
pilihannya masih dibenci, pemuda itu yakin bahwa Allooh Ta'ala pasti akan
mengabulkan do'a-do'anya, bahwa perlahan kelak, pasti orang tuanya akan
menerima jalan pilihannya itu dan melangkah bersamanya... menjemput rohmat
Allooh bersama dan menggapai khusnul khotimah, jalan itu begitu terang
disana... bersama para penempuhnya, meski jarang dan banyak yang enggan
melewatinya... jalan itu membentang lurus penuh barokah, sebuah jalan yang
telah banyak dilalui oleh para manusia terbaik dalam ummat ini, para salafush
sholih... ya... dengan tersenyum pemuda itu berguman... Manhaj Salafush Sholih.
Walloohu a'lam.
Bismillaah ..
BalasHapusYa jalan lurus itu bernama manhaj salafush sholih, tapi haruskah kita menisbatkan diri ato melebelkan diri ato menyebut2 diri sebagai 'salafiy/salafiyyun' ?? Bukankah Allah sudah menjuluki kita sebagai muslim ??
teteeh mau ikutan yaah
BalasHapusaku pernah dikasih tau, katanya syaikh albani pernah berfatwa kalau di jaman seperti sekarang ini penisbatan itu perlu,karena kalo cuma muslim,bisa saji dia seorang sufi,JT,,dll.
wallahu a'lam