Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 September 2013

Balasan dari Surat "Cinta" yang terakhir....


Penghujung masa-masa yang "susah" itu hampir tiba, sebuah penantian panjang dalam keterasingan. Sungguh ironis jika ia memang merasa asing di antara orang-orang yang dikenalnya bertahun-tahun... para guru yang dia hormati, para teman sekelas yang dia cintai, tukang kebun yang dia curhati...

Betapa semakin dia tidak sabar menunggu hari kelulusan itu, selesai sudah "siksaan" ikhtilath yang ia rasakan dengan bertubi-tubi, sungguh semuanya membawa hikmah tersendiri. Dahulu ia yang mengenal setiap kegiatan ekstra, bercanda ber-TTM ria, menikmati setiap saat maksiyat, menikmati setiap pelanggaran yang ia lakukan, kini setelah mengenal manhaj yang haq ini ia menjadi hafal dan kenal tempat-tempat "angker" (baca=sepi) di sekolahnya. Tidak peduli hantu atau apapun (kalau memang iya hantu itu ada) asal bukan campur baur menghabiskan masa istirahat di sekolahnya.

Dan di penghujung masa SMA itu juga terakhir diterimanya, sebuah lembaran kertas yang dimasukkan amplop merah muda bergambar hati tertusuk duri, dan bisa ia mencium surat itu memiliki aroma harum kesturi... Perlahan dengan hati gemetar dan tangan terbasahi keringat dingin dia membacanya... Tertuang ungkapan hati nan gundah gulana dari seseorang disana, ungkapan kerinduan dan kecemasan serta rasa takut kehilangan, kisah-kisah yang pernah terlalui bersama walau itu hanya dihukum berdua karena terlambat sekolah. Sebuah surat kilasan balik masa "kejahilan" yang diingatkan kembali oleh mantan "cinta monyetnya".

Dia menghela nafas panjang yang hanya biasa dilakukannya saat terkena hukuman mengelilingi lapangan basket lima belas kali. Sungguh detak jantungnya berpacu kencang melebihi saat terkena hukuman lari kiloan meter itu.


“Wahai engkau yang disana.... tidak tahukah engkau bahwa aku telah berubah, meninggalkan dirimu sejauh-jauhnya, meninggalkan masa itu selamanya, menguburkannya dalam lembah terdalam hati ini dan tak akan mau membukanya lagi. Duhai engkau yang disana, tidak tahukah engkau bahwa kita adalah deretan korban-korban syaithon yang tak terhitung jumlahnya... "

Dan akhirnya dia memutuskan untuk membalas surat merah muda nan harum itu dengan sobekan kertas buku tulis pelajaran PKN nya halaman yang terakhir... karena ini adalah surat yang terakhirnya kepada lelaki ajnabiy baginya...
amma ba'd

Bismillaah, semoga Allooh Ta'ala memberikan petunjuk jalan yang lurus kepadamu. Telah kita ketahui dan alami masa-masa yang kita lalui bersama, mungkin engkau menuliskan dalam suratmu bahwa itu adalah masa indah kita bersama, sungguh seandainya engkau mengetahui bahwa kini aku menyesali setiap detik dari masa yang kita lewati itu. Jika engkau merindukan masa itu kembali, sungguh aku justru sangat berharap masa itu tidak pernah terjadi.

Tahukah engkau bahwa pacaran itu adalah perbuatan mendekati zina, senyummu... senyumku... saat kita saling bertatap mata, saat itulah syaithon menebar perangkap zina. Jika engkau menyebutnya cinta pandangan pertama, maka kini aku meyakininya sebagai musibah. Wahai saudaraku semoga Allooh memberikan petunjuk kepadamu, kini aku telah berubah... jauh berubah dari yang pernah engkau kenali dulu...

Aku telah berubah menjadi akhowat yang sejati, akhowat yang memiliki kehormatan akan dirinya, tidak layak bagiku mempermainkan lelaki, jika aku memang mencintainya maka aku akan diam. Dan menunggu takdir mempertemukan diriku dan dirinya.

Kini aku adalah seorang akhowat sejati yang akan menanti masa depanku dengan kebersihan hati dan akhlakku.

Dan jika aku memang menghendaki ikhwan,  yang kuharapkan itu adalah ikhwan sholih, menutup dirinya seakan ia adalah bintang yang teramat berharga, dan hanya akulah saja yang kelak boleh menikmatinya jika sudah menikah.

Maka maafkanlah aku, perpisahan yang kupaksakan kepadamu adalah demi kebaikanmu juga, agar engkau menyadari kesalahan kita dulu, maka dengarlah nasihatku!  menjauhlah dari pergaulan lawan jenis yang tidak dihalalkan bagimu. Tuntutlah ilmu sebaik mungkin, cintailah ilmu syar'iy dan berusahalah mengamalkannya, engkau dan aku hanyalah pengembara-pengembara dalam sebuah perjalanan yang singkat namun penuh ujian dan cobaan. 

Jika engkau mampu melakukannya maka engkau adalah orang-orang yang beruntung.

Maka izinkanlah aku pergi darimu, lupakan aku, lupakan semua kisah keburukan kita, dan buanglah semua kenangan kita bersama. Jika engkau adalah jodohku, maka kelak kita pasti akan bertemu... dalam sebuah ikatan yang suci dan indah... bersih dari segala noda yang bisa mengotorinya. Selamat tinggal... ini adalah terakhir kali aku membalas suratmu.”
.......

Dan masa itupun berlalu... dia (akhowat muda itu) tidak pernah lagi mendapatkan kabar akan "mantan" orang yang pernah dikenalnya itu semenjak lulus dari SMA... Semoga Allooh menjaganya... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar