Total Tayangan Halaman

Kamis, 19 September 2013

Surat cinta teruntuk calon anakku nanti.


umi tulis ini di usia umi masih muda.. Cermati baik2 ya #nak



#nak umi sangat mencintaimu jauh sblm umi menikah bahkan di usia umi yg baru beranjak dewasa. Umi persiapkan segalanya dari diri umi dulu.

#nak umi sengaja mempersiapkan segalanya bukan ketika umi sudah menikah, bukan ketika kau di rahim umi, atau bahkan ketika kau telah lahir.

#nak kenapa umi jarang membeli makanan di luar bersama teman-teman? umi lebih memilih belajar memasak dari nenekmu agar kelak ketika umi berumah tangga mampu memberikan makanan halal thoyib dan asupan gizinya tercukupi.

#nak umi tau di era globalisasi, menyiapkanmu menjadi anak yg shalih adalah dg berusaha menjadikan diri umi ini shalih.

#nak umi menyayangimu sehingga umi berusaha menuntut ilmu syar'I agar bisa menjadi madrasah bagimu.

#nak umi tak ingin kau salah langkah hanya karena kelalaian umi di masa muda. Kau adalah titipan dan amanah yg harus umi siapkan untuk umat.

#nak sebelum umi mendidikmu, terlebih dahulu umi mendidik diri umi agar layak menjadi panutan untukmu.

#nak umi tau kau akan menjadi shalih dg izin Allah dlm didikan org tua shalih. Maka istiqomah adlh cara umi menunggu abi yg shalih untukmu.

#nak dimasa muda umi lebih memilih menenggelamkan diri dlm lautan ilmu dr pd mengikuti arus anak muda di masa umi. Itu krna umi syg padamu.

Umi tak ingin kau malu di hadapan Allah karena masa muda umi berpacaran, bertingkah ikut2an dan bahkan menimbulkan murka Allah #nak

Biarlah #nak demi syg umi pd mu, masa muda umi dicibir krna tak mengikuti tren, krn umi ingin kau mengikuti dlm Al Qur'an dan As-Sunnah, bukan tren zaman.

#nak umi syg pdmu, shingga masa muda umi gunakan untuk terus belajar agar bisa menyiapkan bekal terbaik utk mendidikmu kelak

#nak umi syg pdmu, sehingga lisan umi harus terjaga dr kata yg tak bermanfaat. Karena umi hendak mengajarimu menjadikan lisan penuh manfaat.

#nak umi syg pdmu, umi tak ingin mendidikmu dg limpahan materi tp dg kasih dan ilmu syar'i.

#nak umi mau kau jd tangguh, umi tidak akan mengabulkan semua inginmu, meski hati umi iba tp umi harus tegas demi masa depanmu.

#nak umi tak bisa memberimu kemewahan karena itu hanya membawamu sebuah kelenaan, karena umi ingin mendidikmu sbg pribadi pengasih dalam kesederhanaan.

#nak umi menyekolahkanmu untuk mencari ilmu yg bermanfaat bg umat, bukan ilmu yg kau aplikasian untuk memanfaatkan umat.

#nak jika semua persiapan umi ini umi abaikan, maka sama halnya umi mengabaikan dirimu. Umi menyayangimu sehingga umi matangkan persiapannya

#nak Allah masih beri kesempatan umi mulai dari sekarang untuk mendidik diri umi sendiri sebelum kelak Allah amanahkan untuk mendidikmu.

#nak sebenarnya masih banyak yg ingin umi sampaikan pdmu, tp ini cukup mewakili surat cintaku untukmu. Umi yg merindukan hadirmu.

Saudariku muslimah, lahirnya generasi terbaik adalah dari didikan seorang wanita tangguh.

Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq“, ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.
Belajar #parenting itu penting, belum menikah bukan berarti kita harus tutup mata dg ilmunya. Rencanakan dg penuh kasih dan kematangan.

Akhwat jatuh cinta?

tidak ada yang aneh



Mereka juga adalah manusia

Bukankah cinta adalah fitrah manusia?

Tak pantaskan akhwat jatuh cinta?

Mereka juga punya hati dan rasa

Tapi tahukan kalian, betapa berbedanya mereka saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya

Tidak ada senyum bahagia, tidak ada rona malu di wajah, tidak ada buncah suka di dada.

Namun sebaliknya,

ketika akhwat jatuh cinta,

yang mereka rasakan adalah penyesalan yang amat sangat atas sebuah hijab yang tersingkap, ketika lelaki yang tidak halal baginya bergelayut di dalam alam fikirannya

Yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar atas cinta yang tak suci lagi.

Ketika rasa rindu mulai merekah di hatinya,
yang mereka rasakan adalah rasa kesedihan yang tak terperih akan sebuah asa yang tak semestinya
Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu,
yang ada adalah malam-malam yang dipenuhi air mata penyesalan atas cintanya yang ternoda
Yang ada adalah kegelisahan karena rasa yang salah arah, yang ada adalah penderitaan akan hati yang mulai sakit

Ketika akhwat jatuh cinta,
bukan harapan untuk bertemu yang mereka nantikan, tapi yang ada adalah rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut
Tidak ada kata cinta dan rayu yang adalah kekhawatiran yang amat sangat ingin merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak pernah halal baginya

Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah
Kegelisahan yang ada di hati yang tak akan mampu memberinya ketenangan di wajahnya yang dahulu teduh
Mereka akan terus mematikan rasa itu bagaimanapun caranya, bahkan kendati harus menghilang, maka itu pun mereka lakukan.
Alangkah kasihannya jika akhwat jatuh cinta, karena yang ada hanyalah penderitaan

Tetapi ukhty, bersabarlah. Jadikanlah ini urusan dari Robbmu
Matikan rasa itu, matikan secepatnya
Pasang tembok pembatas antara kau dan dia
Pasang duri dalam hatimu agar rasa itu tak tumbuh bersemai
Cuci dengan air mata penyesalan akan hijab yang tersingkap
Putar balik kemudi hatimu agar rasa itu tetap terarah padaNya
Pupuskan asa rindu padanya, dan kembalikan dalam hatimu rasa rindu akan rasa cinta Robbmu

Ukhty, jangan khawatir kau akan kehilangan cintanya
Karena bila memang ditakdirkan bersama, maka tidak akan ada yang akan mencegah kalian bersatu
Tetapi ketahuilah bagaimanapun usaha kalian untuk bersatu
jika Allah tidak menghendakinya maka tidak akan pernah kalian bersatu
Ukhty, bersabarlah! biarkan Allah yang mengaturnya
Maka yakinilah, semuanya akan baik-baik saja.

Minggu, 15 September 2013

"Cintaku Akan Indah Pada Saatnya"


Komentar cewek-cewek awam:

“Ni cowok-cowok yang jenggotan ama celana cingkrang kok kayaknya kaku banget ama cewek ya, ngomongnya kaku dan seadanya ama kita cewek-cewek, trus susah banget diajak ketemu, ntar dia bisa membisikkan kata romantis gak sama istrinya?”


“iya nih, cowok-cowok itu kalo diajak bicara, kadang gak mau liat kita, sering liatin ke bawah ato dikit-dikit liat ke atas, emang bicara ama burung apa? Mereka punya benih cinta ke cewek ga sih?




Seperti inilah kurang lebih komentar para cewek-cewek yang masih awam. Maka akan dijawab melalui tulisan ini. Jawaban para lelaki berjenggot dan celana cingkrang adalah:


Bukannya kami tidak memiliki cinta…


Kan tetapi benih cinta sudah siap berkecambah menjulang…


Tidaklah bisik romantis kami sekedar berdesir…


Kan tetapi desiran yang siap berombak laut…


Dan tidaklah rayu manis sekedar di bibir…


Kan tetapi rayu yang membuai getaran relung…




Cinta kami masih terbungkus iman…


Cinta kami masih terpendam dalam cangkang ketakwaan…


Cinta kami masih menanti di hilir dan masih bergelantung di ujung tetesan…




Kalaulah bukan karena Allah yang kami takutkan …


Bisa jadi beberapa wanita tertunduk takluk dalam dekapan…


Kalaulah bukan karena pagar keimanan…


Bisa jadi para wanita mengiba mengemis belaian…




Cinta kami kan menetas lembut pada saat terhangatnya


Cinta kami kan tertumpah indah pada waktu meluapnya


Dan cinta kami kan mendulang halal pada saat memetiknya




Ketika kedua tangan, Ayahmu dan aku berjabat…


Saksikanlah bahwa Semua episode cinta kan bermulai Indah…


Cinta nan murni, suci dan belum ternoda…


Dengan dirimu yang pertama di hatiku…




Alhamdulillah nikmat terasa…


Duhai diriku yang berbuka puasa cinta…




Bukan kaku tetapi menjaga diri


Ketahuilah bahwa kesan kaku itu bukannya tidak bersumber, akan tetapi sebenarnya bentuk penjagaan diri dari fitnah (ujian) wanita. Karena:


-Fitnah (ujian) terbesar laki-laki adalah wanita.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ


“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.”[1]




-wanita bisa langsung menghilangkan akal laki-laki yang sebelumnya kokoh dan istiqamah beragama


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ


“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.”[2]




-laki-laki lemah terhadap godaan wanita


Allah Ta’ala berfirman,


وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا


“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” [An Nisa: 2]


Lemah terhadap apa? Lemah terhadap wanita. Imam Al-Quthubi rahimahullah berkata dalam tafsirnya ,


وَقَالَ طَاوُسٌ: ذَلِكَ فِي أَمْرِ النِّسَاءِ خَاصَّةً. وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَرَأَ (وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا) أَيْ وَخَلَقَ اللَّهُ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا، أَيْ لَا يَصْبِرُ عَنِ النِّسَاءِ


“berkata Thowus rahimahullah , “hal tersebut adalah mengenai wanita”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwanya beliau membaca [وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ ضَعِيفًا] yaitu, tidak sabar terhadap [godaan] wanita.” [3]




-godaan wanita lebih dahsyat daripada godaan setan


Sebagian laki-laki mungkin bisa menahan godaan setan, akan tetapi bisa jadi ia lemah dengan godaan wanita.


Allah ‘azza wa Jalla berfirman,


إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً


“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” [An-Nisa’:76]




Tapi jangan percaya diri dengan godaan wanita, karena Allah ‘azza wa Jalla berfirman,


إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ


“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah besar/adzim” [Yusuf:28]




Dan masih banyak dalil-dalil yang lain lagi bahwa memang fitnah wanita itu besar. Cukuplah dengan peringatan Imam para Tabi’in, Said bin Mussayyib rahimahullah, beliau berkata,


ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء


“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia) kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya)dengan wanita.”[4]




Lho kalau cowok-cowok yang lain kok biasa aja ya?


Mereka menjawab:


Kami bukanlah seperti cowok-cowok yang sudah mulai bosan mencicip bahkan “merasakan” para wanita, mereka terkadang sudah tidak berselera dengan makanan karena sudah bosan merasakan. Adapun kami, sedikit saja fitnah (ujian) wanita maka hati kami langsung bergetar dan iman langsung berguncang.


Hati cowok-cowok yang kalian maksudkan mungkin sudah biasa bermaksiat dengan wanita yang tidak halal, melihat, memegang bahkan…., sehingga hati mereka tidak tidak berguncang apalagi keimanan mereka yang telah mati dan tertutup.


Allah Ta’ala berfirman,


كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


“Sekali-kali tidak, tetapi disebabkan ar-ran yang menutupi hati mereka disebabkan apa yang telah mereka lakukan.” (Al-Mutaffifin: 14)


Dan manusia kabanyakan, jangan dijadikan tolak ukur kebenaran, tetapi tolak ukurnya adalah syariat.


وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ


“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (Al-An’am: 116)


Kami berusaha sebisa mungkin agar tidak terlihat kaku dan berusaha biasa saja, agar dakwah lebih diterima akan tetapi, itulah kemampuan kami, kaku adalah kesan karena kami menjaga diri.




Kan ga semua cewek cantik, biasa aja kali!


Mereka menjawab:


Bagi kami semua wanita memiliki kecantikan dan diciptakan oleh Allah untuk cantik. karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


المَرْأَةُ عَوْرَةٌ إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَ فَهَا الشَّيْطَانُ


“Wanita itu adalah aurat. Bila ia keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki).”[5]


Syaikh Abul ‘Ala’ Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,


( فإذا خرجت استشرفها الشيطان ) أي زينها في نظر الرجال وقيل أي نظر إليها ليغويها ويغوى بها والأصل في الاستشراف رفع البصر للنظر إلى الشيء


“Bila wanita keluar, setan akan menghiasinya (untuk menggoda laki-laki), maknanya adalah setan menghiasinya di mata laki-laki. Juga dikatakan, maknanya, setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan (manusia) dengannya. Dan makna asal (الاستشراف) adalah mengangkat pandangan untuk melihat sesuatu.”[6]


Terbukti bahwa setiap wanita memiliki aura kecantikan, tidak sedikit laki-laki yang pertama kali melihat wanita mungkin tidak tertarik, tetapi ketika sudah mulai berinteraksi dan berbicara barulah terbesit dalam hatinya:


“ternyata cewek ini manis juga ya”


“ternyata wanita ini lembut dan enak diajak bicara”




Cintaku akan indah pada saatnya


Bagi kami pembuktian cinta hanyalah dengan pernikahan di saatnya yang halal. Semenjak inilah cinta kami berlepas landas melepas jangkar.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لم ير للمتحا بين مثل النكاح


“Tidak diketahui [yang lebih bermanfaat] bagi dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan”[7]


Sebagaimana kami berusaha menjalankan syariat sunnah berjenggot dan celana di atas mata kaki (cingkrang) maka kami juga berusaha menjalankan perintah agar kami menyayangi, memanjakan dan membahagiakan cinta halal kami. Kami berusaha:


-berbuat dan bermuamalah sebaik-baiknya dengan istri


Allah Ta’ala berfirman,


وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ


“Dan bergaullah dengan mereka dengan baik.” (An Nisa’: 19).




- kebaikan terhadap istri adalah tolak ukur akhlak


Rasululluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي


“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya(keluarganya). Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan istriku (keluargaku).”[8]




-tidak akan menelantarkan istri, makanan dan pakaian kami sama


Allah Ta’ala berfirman,


وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ


“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf” (Al Baqarah: 233).


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ


“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah”[9]




Dan masih banyak lagi, misalnya:


-anjuran berupa romantisme seperti sunnah mandi bareng serta bercanda dengan istri yang berpahala


-memperhatikan “nafkah batin” istri karena hal ini merupakan sedekah dalam islam. Sedekah adalah ibadah tentu ibadah berusaha dengan cara terbaik.


-tidak mengkhianati istri dengan berselingkuh atau sekedar cuci mata dengan pandangan tidak halal.




Demikianlah kami diperintahkan, karena istri adalah amanah yang halal dengan kalimat allah.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ. فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ


“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Kewajiban kalian bagi istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf[10]”


Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Senin, 26 Desember 2011

Perempuan yang tergila-gila pada idenya

Dia berkata: "Tuhan, sering aku bertanya.. Mengapa Kau memberikan aku waktu yang begitu terbatas, dan mengapa Kau membiarkan ku tau bahwa hari terakhirku akan segera tiba. Mungkin akalku terlalu terbatas untuk bisa menyelami hatiMu Tuhan. tapi aku fikir mungkinkah Kau memberikan aku waktu yang terbatas karena Kau begitu menyayangiku? Dan karena Kau ingin aku melalakukan apa yang ingin ku lakukan sebelum akhir batas waktuku."
Adrenalinku berpacu cepat. Jantungku berdetak dengan irama tak beraturan. Sahabatku berbaring dengan tubuh kisutnya di ranjang dan aku telah menua sepuluh tahun dalam waktu sebulan. Uban bermunculan di rambutku seperti jamur di musim hujan. Mereka tumbuh dengan kecepatan yang tidak dapat kuramalkan lagi. Mungkin sakit itu segera akan menjajah kepalaku. Aku sungguh tidak peduli.

Saat ini, aku sudah terlampau marah. Panasnya mendidihkan semua cairan di tubuhku. Aku sangat marah. Aku marah kepada perawat yang begitu bego menerjemahkan perintah dokter, marah pada dokter yang begitu bego mengartikan gejala-gejala penyakit pada tubuh sahabatku, marah pada rumah sakit yang begitu lambat mengerjakan perintah-perintah dokter, aku marah pada sahabatku sendiri mengapa tidak merasakan dengan benar gejala di tubuhnya samapai semuanya terlalu terlambat. Aku ingin marah pada teman-teman sahabatku, teman-temanku sendiri dan keluarga yang terasa menambah perih hatiku dengan obrolan mereka, dan pada saatnya mereka akan melemparkan aku sendiri pada kesedihan yang tanpa ujung.

Kepada siapa lagi aku harus marah? Mungkin aku terlalu marah pada diriku sendiri yang tidak pernah dengan benar memperhatikan sahabatku sendiri. Membiarkannya bekerja tak mengenal waktu dan membiarkannya menilai sendiri kesehatannya tanpa pernah berusaha menyelidiki sendiri. Bukankah aku sangat tahu bahwa sahabatku adalah pembohong terbesar dalam kesehatannya. Dalam hidupnya hanya ada kerja, kerja dan kerja, kesehatan adalah masalah paling buntut yang dipikirkannya. Mungkin lagi-lagi aku harus marah pada diriku sendiri kenapa memilih bersahabat dengan perempuan yang demikian. Oh… Aku kehilangan kata-kata. Tiba-tiba aku merasa begitu lelah.

Pernahkah kau menunggui orang yang kau cintai mengerang menahan sakit dan kau merasa kau akan gila bila terus berada di sana. Bagimu udara terasa pengap dan nafasmu sesak. Hatimu hancur detik demi detik melihat keadaanya semakin memburuk. Setiap detik kehancuran menumbuhkan uban di rambut dan satu kerut mendalam di wajahmu.

Kadangkala aku ingin pergi meninggalkan sahabatku begitu saja. Pergi sejauh-jauhnya dan melupakan tubuh sahabatku yang kelihatan semakin buruk. Apa yang bisa diharapkan dari tubuh kurus tinggal belulang dan jiwa yang tidak lagi sadar pada dunia sekitarnya? Ingin rasanya kunikmati duniaku sendiri yang lebih cerah dan berwarna-warni. Namun gerakan kecil tubuhnya dan lirih erangannya selalu memanggil-manggilku untuk kembali. Tubuh ringkih itu masih menyimpan ketenangan dan kedamaian yang membuatku selalu ingin memeluknya. Kata orang, begitu kau berani memilih, kau akan dibuat menderita olehnya. Terkadan pertemuan akan membuatmu merasakan luka terperih di hatimu dan ketakutan yang mengazab jiwamu. Peduliku padanya membuat aku harus siap untuk hancur berkeping-keping menjadi debu menunggu saat-saat terakhirnya.

Walaupun harus kuakui, belakangan ini kekuatan hatiku seolah-olah menuju babak akhir. Aku selalu gemetar ketakutan ketika langkah-langkah dokter mendekat ke ruangan. Kata-kata mereka selalu membuat aku jeruh dan nyaliku menciut. Seandainya aku dapat menyihir mereka menghilang dari pandanganku, agar mereka tidak pernah datang kembali. Oh, bukannya aku sangat mengharapkan mereka menyembuhkan sahabatku?

Tahukah engkau, betapa aku membenci bangunan yang bernama rumah sakit ini. Bau kain cat, bau infus, bau lantai dan bau udara di rumah sakit ini membuat nafasku terasa melukai paru-paruku. Jika keluar dari tempat ini, aku akan merawat diriku dan berjanji untuk tidak akan pernah lagi kembali ke sini.
Andai saja aku masih bisa berharap akan ke lari dari rumah sakit ini bersama sahabatku yang sehat dan segar bugar, dengan pipi tembamnya dan wajah berkilau. Aku memang harus memupuk harapan itu agar aku sanggup bertahan disini. Karena tempat ini telah membuat jiwaku mati. tak sanggup lagi mengindra rasa. 

Pertama kalinya dalam hidupku aku sungguh-sungguh ingin meledak. Meledak membuat jasadku bisa melenting ke tempat sejauh-jauhnya, sehingga semua rasa berhamburan dan musnah.

Oh tidak khayalanku sudah mulai kacau balau. Sungguhkah aku masih waras? Sesungguhnya aku ingin mengistirahatkan jiwaku barang sejenak dan melupakan segala hal tentang sahabatku sesaat. Rasanya aku ingin mengintip bayanganmu di cermin. Sudah seperti apa rupaku saat ini? Aku selalu menyisir rambutku dalam hitungan detik, tanpa pernah memperhatikan apa rambutku sudah rapi atau tidak. Seperti apa rupaku sekarang ini? Mungkin aku sudah tampak sebagai tikus dekil yang baru keluar dari got yang kotor. Setidaknya aku pasti sangat mirip dengan burung yang basah kuyup sehabis hujan deras yang mengguyur bumi. Aku gemetar kedinginan dan sayap-sayapku tidak sangguh lagi mengepakkan sayap ke tempat yang teduh. Ah tidak, ini bukan saatnya melihat wajahku sendiri.

Aku mengarahkan pandanganku kepada tubuh sahabatku yang sedang tertidur. Mukanya sepucat kain kafan. Batok kepalanya meyisakan sejumput rambut yang sangat jarang. Tubuhnya begitu tipis seolah tak seorang pun terbaring di sana. Apakah yang masih tersisa di tubuhnya? Aku tertidur lelah di sisi pembaringannya.
***

Kabar terakhir yang kudengar dari dokter adalah kabar mengenai istriku yang menuju babak akhir. Penyakit kanker darah atau leukimia yang menggrogoti tubuhnya sudah sampai pada stadium akhir. Tak ada jenis pengobatan yang sanggup untuk memperpanjang umurnya lebih lama lagi.

Oh sahabatku yang penuh dengan energi. Yang membangkitkan seluruh hidupnya untuk menulis dan membela kau tertindas. Apakah segala nyala yang pernah memancar dari tubuhnya akan padam begitu saja? Apakah kata-kata tanya yang bersemangat akan lenyap begitu saja?

Aku masih tidak dapat percaya pada tubuhnya yang lincah seperti kijang tersimpan penyakit yang begitu ganas. Seharusnya aku tahu sejak awal, perempuan yang kupercaya bisa menjadi kawan pelupur laraku ini adalah perempuan yang akan memilih akhir yang tragis buat dirinya sendiri. Bukankah begitu yang selalu kudengar terntang orang-orang besar? Mereka akan memilih cara mati yang akan membuat mereka diingat dengan perasaan haru. Akan tetapi tidak dengan aku, sahabatnya. Aku akan tetap mengenang kepergianmu kawan dalam rasa sakit yang jauh merajam hatiku. Karena jauh di dalam hatiku aku masih ingin meneruskan hidup bersama sama hingga di ujung waktu.

Andai aku memilih perempuan yang lebih lunak menjadi kawan setiaku, mungkin kejadiannya akan berbeda. Barangkali ia akan lebih peka pada penyakit yang menyeruak di tubuhnya. Barangkali ia akan segera memeriksakan diri ke dokter ketika ia merasa ada yang ganjil dengan dirinya. Dan segalanya diketahui lebih awal, obat masih sanggup menyembuhkan penyakitnya dan kami masih bisa merajut kebahagiaan bersama. Kami akan menggapai cita-cita kami bersama. sahabatku akan tersenyum cermelang pada keberhasilannya mewujudkan cita-citanya. Aku akan tersenyum bangga untuknya. Mungkin setelah itu kamu akan memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersama-sama, menyesap setiap bulis kebahagiaan yang mentes dalam kehidupan kami. Karena kadang-kadang waktu melesat seperti kilat dan meninggalkanmu jauh ke belakang.

Gelagak-gelagak tangis tiba-tiba tak sanggup untuk kutahankan lagi. Aku menangis dengan suara yang terasa terpantul pantul ke seluruh ruang. Aku tidak tahu apakah aku sudah mempermalukan diriku sendiri. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak sanggup lagi menunggu saatnya tiba. Karena setiap kali aku mengingat saat itu akan tiba, nyaliku menjadi kerdil, aku gemetar ketakutan membayangkan lorong kesedihan yang menungguku di sana. Aku merasakan rasa sakit yang tak terperikan dari sebuah bolong hitam besar hatiku. Masih sanggupkah aku menunggu saat itu tiba?

Rasanya aku tidak akan pernah sanggup. Terutama karena aku merasa sahabatku belum pantas untuk mati. Terlalu banyak hal hebat yang bisa dikerjakannya seandainya ia tidak mati. Aku bahkan masih bisa merasakan gelora semangatnya yang membara sekalipun ia terbaring tanpa daya. Mengapa ia harus padam di saat ia begitu ingin berpendar seperti kembang api. Apa ini yang sungguh bernama takdir?

Sahabatku memang mempunyai musuh. Ialah orang-orang yang terus menerus mendapat kritik pedas darinya. Kalaupun ada yang bersorak bahagia sekarang mungkin merekalah orangnya. Mereka dengan penuh dendam bisa saja mengatakan sahabatku terkena karma. Oh aneh, bukankan merekalah yang harus menerima karma karena sahabatku orang baik. Seharusnya sahabatkulah yang bersorak karena satu persatu orang yang dikritiknya akan menuai balasan.

Tangisku berubah menjadi sedu sedan yang masih terdengar keras. sahabatku terlelap dalam tidurnya akibat obat-obatan yang mengguyur saraf-sarafnya. Ia tidak akan mendengar suara tangisku, karena bila ia melihatku seperti ini ia akan tertawa terbahak-bahak. Pada saat menahan rasa sakit yang sanggup mengoyak jantungku pun, tak setetes pun air mata meleleh ke pipinya. sahabatku adalah perempuan yang tangguh, namun tidak aku sahabatnya.

Entahlah, tangis ini membuat segalanya terasa lebih mudah bagiku. Ada kepedihan yang hanyut bersama dengan tetes-tetes air yang mengguyur daguku.

Sungguhkah ini cara kematian yang diinginkan oleh perempuan yang begitu tergila-gila pada idenya? Barangkali ia ingin mati sebagai martir dari ide-ide yang belum sempat disampaikannya. Barangkali kematiannya pun ia harapkan menjadi sumbu yang mengobarkan api perjuangannya. Tetesan air mataku mengering tepat ketika aku siap melepasnya pergi atau merangkulnya kembali kedalam kehidupan. Aku tahu perempuan ini adalah perempuan yang begitu bahagia mencumbui cita-citanya. Demi cintaku padanya demi persahabatan kita aku rela ia memilih.